Kasus: sebuah dadu dilempar 6 kali. Jika sisi angka yang muncul selalu sisi "6", maka kita curiga itu dadu palsu (diberi mesin yang bisa disetel memunculkan satu sisi angka tertentu).
Bagaimana pertanyaan penelitiannya?
Pertanyaan penelitian: Dadu itu dadu palsu, bukan dadu normal.
H0: itu dadu normal
H1: itu dadu palsu
Kita bisa pakai probabilitas sederhana.
Peluang muncul sisi 6 adalah 1/6.
Peluang muncul sisi 6 dalam 6 kali lemparan (1/6)^6 = 0.0000214 (0.002%).
Jika di kurva normal standar, 95% (0.95) bagian kirinya 5% adalah area H0 dtolak.
0.002% < 5% -- H1 diterima, artinya dadu itu palsu.
Nah sekarang apa dasar teorinya?
Jika t test untuk data kontinyu, maka untuk kasus lemparan dadu ini datanya adalah kategorikal/simbol. Dan t test tidak bisa digunakan. Sebagai gantinya kita akan gunakan test Chi Kuadrat.
Step 1:
Merumuskan Hipotesis (H0 dan H1)
Dalam Uji
Chi-Kuadrat untuk keselarasan (apakah data sesuai dengan harapan), hipotesis
kita selalu berfokus pada keseimbangan atau distribusi frekuensi.
- H0 (Hipotesis Nol): Dadu tersebut normal/seimbang.
Peluang munculnya setiap sisi dadu (1 sampai 6) adalah sama (masing-masing
).
- H1 (Hipotesis Alternatif): Dadu tersebut palsu/dimanipulasi.
Distribusi peluangnya tidak merata (ada sisi yang lebih sering muncul).
Step 2: Menyiapkan
Data dan Asumsi (Frekuensi Ekspektasi vs Observasi)
Kita melempar dadu
sebanyak 60 kali. Ada dua jenis data frekuensi yang akan kita
bandingkan:
1. Frekuensi
Ekspektasi (
) - Harapan jika H0 Benar
Jika dadu benar-benar
normal, berapa kali kita "berharap" setiap angka muncul dari 60
lemparan?
- Rumusnya:


Jadi, ekspektasinya
setiap angka (1, 2, 3, 4, 5, 6) masing-masing muncul 10 kali.
2. Frekuensi
Observasi (
) - Kenyataan (Mock Data)
Mari kita buat asumsi
data hasil lemparan palsu agar kita bisa melihat bagaimana H0 ditolak.
Anggaplah angka "6" sudah di-setting agar lebih berat:
- Mata Dadu 1: 5 kali
- Mata Dadu 2: 7 kali
- Mata Dadu 3: 8 kali
- Mata Dadu 4: 9 kali
- Mata Dadu 5: 6 kali
- Mata Dadu 6: 25 kali
(Total = 60 kali
lemparan)
Step 3: Rumus
Chi-Kuadrat (
)
Rumus untuk mencari
nilai Chi-Kuadrat Hitung (
) sangat intuitif. Kita mencari selisih antara kenyataan dan harapan,
dikuadratkan agar tidak ada nilai negatif, lalu dibagi dengan harapan:

Dimana:
= Jumlahkan seluruh hasil
dari sisi 1 sampai 6
= Nilai Observasi
(Kenyataan)
= Nilai Ekspektasi (Harapan)
Step 4: Perhitungan
Step-by-Step
Mari kita masukkan
mock data kita ke dalam rumus:
- Sisi 1:

- Sisi 2:

- Sisi 3:

- Sisi 4:

- Sisi 5:

- Sisi 6:

Total Nilai
:

Step 5: Menentukan
Derajat Kebebasan dan Nilai Kritis
Sama seperti t-test
yang memiliki t-tabel, Chi-Kuadrat juga memiliki tabel nilai kritis (
).
Untuk mencarinya, kita
butuh dua hal:
- Tingkat Signifikansi (
): Kita gunakan standar 0.05 (5%).
- Derajat Kebebasan (Degrees of Freedom
/ df):

(Di mana
adalah jumlah kategori/sisi dadu,
yaitu 6).

Melihat tabel
Chi-Kuadrat untuk
dan
, kita mendapatkan:

Step 6: Kesimpulan
(Pengambilan Keputusan)
Aturan keputusannya
persis sama dengan logika yang sudah Anda pahami:
- Jika
Gagal menolak H0 (Dadu
normal).
- Jika
Tolak H0 (Dadu tidak
normal).
Hasil Kita:
Nilai hitung kita
adalah 28.0, sedangkan nilai tabel (pagar batasnya) hanya 11.070.
Karena
, maka keputusannya adalah Tolak H0.
Kesimpulan Akhir:
Secara statistik, ada
bukti yang sangat kuat (signifikan) bahwa dadu tersebut telah dimanipulasi
(tidak seimbang), karena kemunculan angka 6 terlalu ekstrem untuk dianggap
sebagai sebuah kebetulan.
Opsi lain adalah menggunakan test Binomial.
Step 1: Merumuskan
Hipotesis (H0 dan H1)
Karena kecurigaan kita
mengarah pada satu sisi secara spesifik (angka 6 muncul terlalu sering), kita
akan menggunakan uji 1 arah (kanan).
- H0 (Dadu Normal): Peluang muncul angka 6 adalah persis
(atau
).
- H1 (Dadu Dimanipulasi): Peluang muncul angka 6 lebih besar
dari
.
Step 2:
Mendefinisikan Parameter
Kita terjemahkan data
observasi Anda ke dalam simbol matematika:
(Total lemparan)
(Jumlah "Sukses" /
angka 6 yang muncul)
(Peluang sukses jika H0
benar)
(Peluang gagal jika H0
benar)
Step 3: Memahami
Logika "P-Value" (Peluang Kumulatif)
Ini bagian yang paling
sering disalahpahami. Dalam Uji Binomial, kita tidak hanya menghitung
peluang munculnya angka 6 tepat 25 kali. Kita menghitung P-Value,
yaitu peluang munculnya angka 6 sebanyak 25 kali atau lebih (25, 26, 27,
..., 60) jika dadu itu normal.
Rumus dasar
probabilitas binomial untuk tepat
kejadian adalah:

(Di mana
adalah rumus Kombinasi:
)
Jadi, P-Value Anda
adalah penjumlahan panjang ini:

Masalahnya: Menghitung manual penjumlahan 35 rumus
kombinasi berturut-turut akan sangat melelahkan! Oleh karena itu, ahli
statistik menggunakan cara pintas di Step 4.
Step 4: Jalan
Pintas (Pendekatan Distribusi Normal / Z-Test)
Jika jumlah
cukup besar (biasanya
), kita diizinkan menggunakan rumus Z-Score (Distribusi Normal)
untuk mengestimasi hasil Uji Binomial. Ini jauh lebih mudah!
a. Cari Rata-rata
yang Diharapkan (
):
Berapa kali wajarnya
angka 6 muncul dari 60 lemparan?

b. Cari Simpangan
Baku (
) / Margin of Error:
Seberapa besar
toleransi penyimpangan dari angka 10 tersebut?

c. Hitung Nilai Z
(Z-hitung):
Kita ukur seberapa
jauh kenyataan (25) menyimpang dari harapan (10), dibagi dengan margin
toleransinya (2.887).

Step 5: Pengambilan
Keputusan
Dalam tabel standar
Distribusi Normal (untuk tingkat kepercayaan 95% atau
pada uji 1-arah), Z-tabel
(batas kritisnya) adalah 1.645.
- Aturan: Jika
, maka Tolak H0.
- Hasil kita: 5.19 > 1.645 (Sangat
jauh melampaui batas!)
Kesimpulan:
Kita menolak H0 dengan
sangat yakin. Peluang sebuah dadu normal menghasilkan angka enam sebanyak 25
kali dari 60 lemparan secara kebetulan nyaris mendekati 0%. Dadu tersebut
secara statistik terbukti dimanipulasi (mendukung H1).
<eof>