Dengan hitung manual p-value terletak antara 0.01 < p-value < 0.025. Karena p-value < 0.05 maka Ho reject, Ha accept. Artinya dapat disimpulkan: rata-rata konsumsi kopi meningkat dari sebelumnya 3 cangkir.
Tulisan ini merupakan adaptasi dari artikel https://www.ssc.wisc.edu/sscc/pubs/sfs/sfs-ttest.htm. Didalam artikel tsb diberikan penjelasan cara membaca Ha, pada output Stata.
Latar Belakang
Pada saat melakuka test Hipotesis Null (Ho) apakah kita reject atau accept, perlu dibuatkan lawan dari Ho, yaitu Ha nya.
Menariknya Stata akan menampilkan Ha, baik yang two tailed, maupun yang one tailed left, maupun right.
Sebagai contoh:
Anggap kita ingin menguji bahwa rata-rata nilai educ (education) pada satu polulasi = 14 (Ho: mean = 14).
Ho: mean =14
Dan stata menampilkan nilai Mean, Std. Err., dan Std. Dev dari 254 sample.
Mean ditampilkan = 13.38583.
Ditampilkan pula 95% Conf. Interval.
Apakah Ho: mean = 14 bisa di Accept?
Kita lihat bahwa 14, berada diluar range 95% Conf. Interval, sehingga:
Ho: mean = 14 reject
Konsekuensinya lawannya yaitu Ha: mean != 14, Accept.
Perhatikan nilai P(|T| > |t|) nya = 0.0037 < 0.05 sehingga ini significant, juga sama mengindikasikan Accept.
Lanjut.... Disini nih masalahnya...
Bagaimana kalau kita mengasumsikan:
Ho <=4
atau
Ho >=4
Nah jadi masalah di Stata. Kita tidak bisa "memaksa" memasukkan nilai: Ho <=14, atau Ho >=14.
Tapi wait... Stata cukup baik menampilkan 3 variasi Ha, dibagian bawah outputnya. Tiga variasi Ha ini bisa menghasilkan 3 case.
Jika Ha di ketiga case ini diketahui, tentu mudah buat kita membuat pasangan Ho nya, bukan?
Jika Ho terdefinisi, maka problematika yang kita hadapi diatas terjawab sudah.
Perhatikan kembali gambar berikut:
Case-1:
Kita asumsukan Ha, sbb
Ha: mean !=14, maka tentu kita bisa buat lawannya, yaitu Ho nya.
Ho: mean = 14
Nah perhatikan di output Stata yang menyebutkan Ha: mean !=14 (bagian tengah / Case-1 di gambar).
Case 1 ini mirip dengan pembahasan diatas. Cara menentukan siapa yang direject bisa dengan 2 cara:
1. Dengan melihat 95% Conf. Interval (seperti pembahasan diatas):
- Jika 14 masuk dalam interval --> Ho Reject
- Jika 14 diluar interval --> Ho Accept
Diatas tabel terlihat 14 diluar interval, maka Ho Reject
2. Cara lain yaitu dengan melihat di output Stata bagian Case-1
Ha: mean !=14, Pr nya 0.0037 < 0.5, maka Ha Accept, dengan kata lain konsekuensinya Ho Reject.
Kesimpulan case-1:
Ha: mean !=14, Accept
Ho: mean = 14 Reject
Case-2:
Bagaimana kalau kita berasumsi:
Ha: mean <14, maka kita tentu bisa buat lawannya yaitu Ho nya.
Ho: mean >= 14
Lihat di output Stata bagian Case-2.
Ha mean < 14, Pr nya 0.018 < 0.05, maka Ha Accept, artinya Ho Reject.
Catatan Ho disini adalah Ho: mean >= 14 (Ho case-2), bukan Ho = 14 (case-1)
Kesimpulan case-2:
Ha: mean < 14 Accept
Ho: mean >=14 Reject
Case-3:
Bagaimana kalau kita berasumsi:
Ha: mean > 14, maka kita tentu bisa buat lawannya yaitu Ho nya
Ho: mean <= 14
Lihat di output Stata (Case-3 di gambar).
Ha mean > 14, Pr nya 0.9982 > 0.05, maka Ha Reject, artinya Ho Accept.
Catatan Ho disini adalah Ho: mean <= 14 (Ho case-3) , bukan Ho = 14 (case-1)
Kesimpulan case-3:
Ha: mean > 14 Reject
Ho: mean <= 14 Accept
<eof>
Uji t-test dan z-test pada dasarnya adalah uji Hipotesis. Biasanya uji t-test dilakukan pada sample yang terbatas, kurang dari 30, sedangkan uji z-test dialkukan pada sample lebih dari 30.
Apa beda uji t-test dengan z-test?
Dari Stata kita jadi tahu bahwa z-test hanya digunakan jika variance atau standard deviasi dari populasi diketahui.
Sebuah mesin menghasilkan minuman sebanyak 80 ml per botol (𝛍 populasi). Seorang karyawan (peneliti) yakin bahwa mesin tersebut tidak menghasilkan sebanyak 80 ml per botol. Dia lalu mengambil 40 sampel (n). Dia ukur semua sample itu dan mendapatkan rata-rata 78ml (x-bar) dengan standar deviasi 2.5 (s sample).
Pertanyaan:
a. Buat H0
b. Dengan confident level 95%, apakah cukup bukti untuk menyatakan bahwa mesin tidak bekerja dengan benar?
Jawab:
a. Diketahui bahwa jumlah sample 40, maka akan dilakukan uji z (dalam hal ini 𝛔 dianggap sama dengan s karena sample sudah diatas 30).
H0, adalah status quo, yaitu 𝜇 = 80 ml
Ha, adalah lawannya, yaitu 𝜇 != 80 ml
b. Perhitungan z-value:
n = 40
x-bar = 78 ml
𝛔 = s = 2.5
alpha = 5%
z-critical = 1.96 (rumus excel: =NORMSINV(0.025) = 1.96 )
z-value = -5.06, berada area Reject H0, artinya H0 tertolak.
Interpretasi:
Dengan level confident 95%, asumsi bahwa rata-rata mesin menghasilkan 80ml per botol tertolak, artinya ada masalah pada mesin tsb.
Contoh Uji t-test
Sebuah perusahaan membuat bateray dengan lifetime 2 tahun atau lebih (𝛍 populasi). Seorang engineer peneliti merasa usia baterai kurang dari 2 tahun. Dia lalu mengambil 10 sample (n). Dia mendapatkan rata-rata dari sample tsb 1.8 tahun (x-bar) dengan standard deviasi 0.15 (s sample).
Pertanyaan:
a. Buatlah hipotesis 0
b. Dengan confident level 99% apakah cukup bukti untuk mereject H0?
Jawab.
a. Karena jumlah sampel kurang dari 30, kita gunakan t-test (dan juga karena 𝛔 unknown).
H0, adalah status quo, yaitu 𝜇 >= 2 th (ONE TAIL)
Ha, adalah lawannya, yaitu 𝜇 < 2 th
b. Perhingan t-value
n = 10
x-bar = 1.8 th
s = 0.15
alpha = 1%
t-critical = -2.82 (rumus excel: ==T.INV(0.01 , 9) = -2.82), df = 10 -1 = 9
t-value = -4.22, berada area Reject H0, artinya H0 tertolak.
Interpretasi:
Dengan level confident 99%, asumsi bahwa rata-rata lifetie baterai >= 2th ditolak, artinya ada masalah pada produksi bateray tsb, sehingga rata-rata lifetimenya < 2th.
LEBIH LANJUT DENGAN Z-TEST
Persyaratan t-test:
1. 𝛔 (standar deviasi populasi) tidak diketahui
2. Jumlah sample < 30
Jika 𝛔 (standar deviasi populasi) diketahui dan sample > 30 maka gunakan z-test. Karena sample cukup besar maka jika 𝛔 (standar deviasi populasi) tidak diketahui bisa diganti dengan s (standar deviasi sample).
Note: Para peneliti lain menyatakan apabila 𝛔 diketahui, walaupun sample < 30, tetap menggunakan z-test.
Contoh soal: 𝛔 diketahui, tapi sample kecil
Nilai rata-rata satu sekolah adalah 75 (𝛍 populasi), dengan standar deviasi 10 (𝛔 populasi). Berapa probability random sample, 5 siswa (n) dengan nilai diatas 80 (x-bar).
Jawab:
Kita tahu bahwa syarat t-test harus terpenuhi dua syarat ini:
1. 𝛔 (standar deviasi populasi) tidak diketahui
2. Jumlah sample < 30
Dalam konteks soal, 𝛔 (standar deviasi populasi) diketahui, maka t-test tidak digunakan. Walaupun sample kecil, karena 𝛔 diketahui kita tetap pakai z-test.
Summary data:
𝜇 (mean population) = 75
𝛔 (standar deviasi populasi) = 10
n = 5
x-bar > 80
Rumus z-value
z-value = (80 - 75) / (10 / sqrt (5)) = 1.12
z-critical = NORMSDIST(1.12) = 86.86%
Sehingga probabilitas 5 siswa mendapatkan nilai > 80 adalah 100% - 86.86 = 13.14%
1. 𝛔 (standar deviasi populasi) tidak diketahui
2. Jumlah sample < 30
𝜇 (mean population) = 75
𝛔 = s (standard deviasi sample) =10
n = 40
x-bar > 80
Rumus z-value
z-value = (80 - 75) / (10 / sqrt (40)) = 3.16
z-critical = NORMSDIST(3.16) = 99.92%
Sehingga probabilitas 40 siswa mendapatkan nilai > 80 adalah 100% - 99.92 = 0.08%
Contoh soal: 𝛔 tidak diketahui, dan sample kecil
1. 𝛔 (standar deviasi populasi) tidak diketahui
2. Jumlah sample < 30
t-value = (80 - 75) / (10 / sqrt (9)) = 1.5
t-critical = =T.DIST.RT(1.5,8) = 8.60% -- RT = Right Tail
Sehingga probabilitas sample 9 siswa mendapatkan nilai > 80 adalah = 8.60%
<eof>
Update 29 Nov 2020: Tips & Trick dibawah ini hanya berlaku untuk 2 tailed test. Sedangkan untuk 1 tailed test, baca artikel ini.
Confidence Interval dapat digunakan untuk menentukan apakah H0 ditolak atau diterima. Kita tidak perlu ingat rumus seperti yang dibahas pada artikel t-test. Kita cukup melihat apakah value dari H0 masuk dalam range interval atau tidak. Jika masuk, maka H0 diterima.
Sebagai contoh kita gunakan Buku Praktikum Analysis Statistik, karya Bpk. Surya Darma, edisi 2020.
1. Uji Proporsi
Perhatikan halam 29.
Di gambar terlihat:
H0:p = 0.5 ---> check apakah 0.5 masuk dalam rentang interval? Ternyata tidak masuk --> H0 ditolak.
2. Uji Beda Rata-rata (mean)
Perhatikan gambar halaman 31.
TerlihatH0: mean = 3 diluar range --> H0 ditolak.
Lalu rata-rata menggunakan HP berapa lama dong?
Lihat Ha: mean < 3, probability nya 0 < 0.05, sehingga Ha diterima, atau disimpulkan rata-rata menggunakan HP < 3 tahun.
3. Uji Proporsi 2 Sample
Perhatikan halaman 40.
Lihat gambar.
H0 : diff = 0, apakahh 0 ada dalam interval? Tidak --> H0 ditolak.
Lalu mana yang lebih banyak proporsinya? Lihat di Ha: diff > 0 nilai Pr 0.0001 < 0.05 sehingga diterima.
Ha: diff > 0 diterima
Perempuan - Laki > 0
Perempuan > Laki
Artinya proporsi perempuan lebih besar.
3. Uji Rata-rata (mean) 2 Sample
Perhatikan gambar halaman 42.
H0: diff = 0, perhatikan 0 termasuk dalam interval? Iya --> H0 diterima
Artinya asumsi H0: tidak terdapat perbedaan mean antara Lama penggunaan HP antara L dan P, diterima.
4. Uji Hipotesis Data Paired
Digambar terlihat:H0: mean (diff) = 0, perhatikan 0 terdapat dalam interval? Tidak --> H0 ditolak
Artinya terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah tune up penggunaan bahan bakarnya.
Lalu Ha mana yang diterima?
Lihat Ha: mean (diff) < 0, Pr nya 0.000 < 0.05, artinya Ha ini diterima
mean(diff) = mean (Sblm - Ssd)
dan perhatikan
Ha: mean(diff) < 0, dengan Pr 0, artinya signigicant. Artinya:
Sblm - Ssd < 0
Sblm < Ssd
Jadi setelah tune up (Ssd) jarak tempuh akan lebih jauh.
Dalam kalkulasi estimasi, seperti uji regresi kadang ditemukan satu atau beberapa variable independent di ommit oleh Stata. Variable yang diommit ini tidak dilibatkan dalam perhitungan. Salah satu penyebabya adalah collinearity.
Apa itu collinearity?
Collinearity terjadi saat satu atau beberapa variable independent berkaitan erat dengan variable indendent lainnya. Collinearity ini menyebabkan model regresi menjadi bermasalah.
Contoh:
Nilai raport siswa ditentukan oleh uang saku, dan biaya transport.
Yang logis adalah semakin tinggi uang saku maka semakin tinggi nilai raport siswa. Dan semakin tinggi biaya transport semakin rendah nilai raport siswa.
Logis kan.
Tabel berikut ini saya buat secara imaginer. Nilai (rentang 0 - 100), biayatransport dalam Rupiah x 1000, dan uangsaku dalam Rupiah x 1000.
nilai = 23.18457 + 0.7823691.uangsaku - 0.8115702.biayatransport
Terlihat bahwa: R-squared 83% cukup tinggi, dan Prob 0.0018 (significant). Disamping itu variable independent uangsaku dan biayatrasport P nya juga significant. Terlihat juga coefisien uangsaku positif dan biayatransport negatif. Ini sesuai dengan asumsi awal kita bahwa semakin tinggi uangsaku siswa semakin tinggi nilai raportnya. Sebaliknya semakin tinggi biayatransport siswa semakin rendah nilai raportnya.
Setiap kenaikan uangsaku 1 (atau Rp. 1000) akan menaikkan nilai raport 0.782. Setiap kenaikan biayatransport 1 (atau Rp. 1000) akan menurunkan nilai raport 0.812.
Nah, sekarang kita coba buat variable baru yaitu infaq.
infaq = uangsaku x 2.5% + 2
Perhatikan ada note di statanya:
note: infaq omitted because of collinearity
Terjadi collinerarity disini yaitu variable infaq ini dia collinier terhadap variable independent lain, bisa terhadap uangsaku bisa terhadap biayatransport.
Untuk memeriksa infaq ini collinier dengan variable independent mana, kita bisa menjadikan dia seolah variable dependent dan melakukan regresi ulang.
infaq = 0.025.uangsaku - 1.55e-18. biayatransport + 2
karena coefisient biayatransport -1.55e-18 kecil sekali = 0, maka persamaan infaq menjadi:
infaq = 0.25.uangsaku + 2
Variable yang collinier ini harus dibuang dari model regresi. Kita bisa memilih model regresinya menggunakan salah satu saja apakah uangsaku atau infaq.
Sehingga model regresi yang baik:
regress nilai uangsaku trasport
atau
regress nilai infaq transport
Dalam kehidupan nyata bisa dibayangkan sitiuasi spt ini.
Seorang Bapak disosori oleh anaknya data nilai raport siswa di sekolahnya, berikut dengan data uangsaku, uang transport, dan infaq masing-masing siswa tsb.
Si Bapak melihat ada korelasi positif antara besar uangsaku dan infaq terhadap nilai raport. Semakin tinggi uangsaku atau infaq semakin tinggi nilai raport.
Si Bapak juga melihat korelasi negatif antara biayatransport terhadap nilai raport. Semakin tinggi biaya transport, semakin turun nilai raport.
Menghadapi 3 variabel independen tsb si Bapak memutar 1/3 energi otaknya untuk berpikir bagaimana cara menambah uangsaku anak, 1/3 energi otaknya diperas untuk memikirkan bagaimana menambah infaq si anak, dan sisa energi otaknya 1/3 lagi dia gunakan berpikir keras bagaimana menurunkan biaya transport.
Dalam hal ini si Bapak bisa saja terjebak memikirkan bagaimana menaikkan uangsaku dan infaq, karena jika problem ini solved, menurut si Bapak sudah 2/3 masalah solved.
Si Bapak tidak peduli dg biayatransport.
Bisa jadi keputusan si Bapak, adalah mengurangi jatah dapur untuk menambah uangsaku dan infaq anak.
Padahal, uangsaku dan infaq ini collinear.
Jika si Bapak, mengerti tentang konsep collinear, maka si Bapak akan melihat ada korelasi liniear antara uangsaku dan infaq. Sehingga dia akan pilih salah satu variable saja, yaitu uangsaku.
Si Bapak sekarang dihadapkan pada dua variable saja: uangsaku, dan biayatransport.
Si Bapak akan putar otak 50% memikirkan bagaimana menaikkan uangsaku dan 50% energi otak sisanya memutar otak bagaimana menurunkan biaya transport.
Si Bapak kemudian memutuskan untuk menyelesaikan masalah biayatransport ini. Setelah dia lihat dan analisa, biayatransport ini membengkak karena anaknya harus 3 kali menyambung angkot, sehingga waktu habis, uang habis, sampai sekolah si anak sudah "bete" duluan. Ini berpegaruh negatif terhadap nilai raport.
Akhirnya si Bapak memutuskan meminjamkan motor dia ke anaknya, karena setelah dia hitung-hitung biayanya menggunakan motor jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya naik 3 kali angkot, dan juga pakai motor lebih cepat sampai sekolah. Sementara si Bapak memilih ke tempat kerjanya nebeng tetangga, atau naik angkot dengan mengurangi jatah belanja rokok dia.
Setelah setahun berlalu terbukti anaknya jadi ranking satu di sekolahnya. Si Bapak berguman dalam hati: hmmm untung dulu saya analisanya pakai analisa collinearity... sambil menyeruput secangkir kopi hitam...
Artikel ini terjemahan dari:
File latihannya download hsb2.xls
Ringkasan dari artikel tsb:
1. Categorical Variable tidak bisa dimasukkan langsung dalam uji regresi. Uji regresi hanya bisa dilakukan pada variable numerical (continues) maupun variable dichotomous (spt Gender). Variable selain itu (spt variable nominal atau ordinal), tidak bisa dilakukan uji regresi.
2. Agar bisa dilakukan uji regresi maka variable Categorical tsb di recode menjadi variable lain. Ada beberapa teknik recode:
| Level of race | New variable 1 (x1) | New variable 2 (x2) | New variable 3 (x3) |
| 1 (Hispanic) | 1 | 0 | 0 |
| 2 (Asian) | 0 | 1 | 0 |
| 3 (African American) | 0 | 0 | 1 |
| 4 (white) | 0 | 0 | 0 |
Adakalanya kita mendapatkan satu variable yang bersifat categorical nominal seperti - Gender: Male, Female; atau ordinal seperti lulusan: SD, SMP, SMA, Univ.
Kita tahu bahwa regresi hanya bisa dilakukan pada variable numerical (interval, atau ratio) baik angkanya discreet atau continues.
Jika kita tetap ingin menguji variable categorical tsb kedalam persamaan regresi, apa trik nya?
Caranya buat Dummy Variable.
Sebagai contoh: Level Pendidikan (edulevel)
1=very low (VL)
2=somewhat low (SL)
3=somewhat high (SH)
4=very high (VH)
Nah kita bisa bikin 4 Dummy variable baru. Nanum, karena dummy variable hanya berisi 0 dan 1, maka jumlah variable yang akan dimasukkan dalam persamaan regresi hanya 3 saja.
Education level VL SL SH
1 1 0 0
2 0 1 0
3 0 0 1
4 0 0 0 (VH as baseline)
Dalam hal diatas, maka yang menjadi refensi adalah VH (tidak dimasukkan dalam persamaan regresi).
Kenapa begitu?
Anggap persamaan regresi:
y = a.VL + b.SL + c.SH + Cons
VH itu terjadi jika VL = 0, SL = 0, dan SH = 0
sehingga:
y = 0 + 0 + 0 + Cons
Artinya Cons itu lah yang menjadi VH nya.
Artinya tidak semua variable dummy itu perlu dimasukkan ke dalam persamaan regresi.
Misal kita ingin melihat korelasi antara Achiement (dependent) vs tingkat pendidikan (independent) dan Keinginan untuk Menguasai sesuatu hal - Mastery Goal (independent).
Dugaan kita adalah VH akan memberikan kontribusi positif terhadap Achieve, dibandingkan dengan VL. Dengan demikian ada baiknya VH yang dimunculkan dalam persamaan regresi, dan Cons nya adalah VL.
Education level SL SH VH
1 0 0 0 (VL as baseline)
2 1 0 0
3 0 1 0
4 0 0 1
Sehingga persamaan regresi:
y = b.SL + c.SH + d.VH + Cons
Saat SL = 0, SH = 0, VH=0
maka:
y = 0 + 0 + 0 + Cons
Artinya Cons itu lah yang menjadi VL nya.
Cara interpretasinya:
Misal didapat nilai slope VH senilai 5.3, ini berarti pengaruh VH 5.3 point lebih tinggi daripada VL.
Kita ingin melihat keterkaitan antara Achievement vs Mastery Goal dan Level Pendidikan. File xls bisa di download disini.
Terlihat kolom edlevel, value nya ada 4. Kita bisa buat 4 variable dummy. Disamping itu terlihat genderid juga ada 2 valuenya, dimana 1 = female, dan 0=male. Kita bisa juga membuat 2 variable Dummy untuk gender ini.
gen VL = (edlevel==1)
gen SL = (edlevel==2)
gen SH = (edlevel==3)
gen VH = (edlevel==4)
gen isFemale = genderid
gen isMale = (genderid==0)
Akan tetapi karena genderid hanya 2 kemungkinan valuenya dan variable ini sudah ada, maka kita tidak akan menggunakan variable isFemale atau isMale ini dalam regresi. Kita cukup menggunakan variable dummy genderid saja. Ingat teorinya, bahwa jika ada n dummy variable, maka yang digunakan dalam persamaan regresi hanya n-1. Satu variable yang tersisa akan terserap dalam Cons.
achive = 5.26.genderid + .82.mgoal - 1.22.SL + 3.53.SH + 5.54VH + 11.16
Bagaimana interpretasi terhadap VL?
VL terjadi jika:
genderid = 0 (male)
mgoal = 0
edulevel : SL = 0, SH =0 , VH = 0
Jika kondisi ini tercapai maka VL = 11.16
Sebenarnya sampai disini sudah selesai regresi kita. Bisa disimpulkan bahwa:
genderid significant mempengaruhi achievement secara positif dengan slope 5.26
VH significant mempengaruhi achievement secara positif dengan slope 5.54
Variable lain tidak significant mempengaruhi achivement.
Tapi wait.. bagaimana dengan variable VL?
Sebelumnya disebutkan VL ini semua variable lain dalam regresi nilainya 0 ... salah satunya mgoal = 0 ... masalahnya di data yang di sampling nilai mgoal tidak ada yang 0.
Bagaimana supaya mgoal ini bisa mengandung nilai 0?
Karena ini interval, maka kita bisa geser nilai ini. Ingat bahwa nilai 0 pada interval bisa digeser. Contoh 0 celcius bisa digeser menjadi 32 pada fahrenheit.
Catatan ingat kembali numerical variable bisa dalam bentuk interval, dan rasio. Jika rasio maka nilai 0 mutlak, tidak bisa digeser walau pakai unit lain (kg ke g). Contoh 0 kg = 0 g, walau sudah beda unit dari kg ke g, tetap saja nilai 0 nya sama.
Bagimana cara menggeser value mgoal? Kurangi saja dengan rata-rata (mean) nya. Di tabel mean 100.
Kita create variable baru yaitu mgoalcenter (interval).
gen mgoalcenter = mgoal - 100
regress achieve genderid mgoalcenter SL SH VH
Terlihat sekarang hasilnya, ternyata tidak berbeda dengan mgoal (sebelum di geser menjadi mgoalcenter)
achive = 5.26.genderid + .82.mgoalcenter - 1.22.SL + 3.53.SH + 5.54VH + 93.39
Interpretasi VH dan VL:
Disaat gender Male, dan masterygoalcenter = 0, level pendidikan VL akan menentukan achivement 93.39.
Jika gender Male, dan masterygoalcenter = 0, level pendidikan VH akan menentukan achivement 5.54 point diatas VL (5.54 + 93.39).
Kita ingin menemukan regresi antara Harga Mobil (Price) vs Kilometer (Milleage), Umur (Age), dan Kondisi (Condition).
Dalam hal ini Condition adalah Categorical Ordinal Variable, sehingga perlu dibuat dummy variablenya.
gen dExcel = (condition == "Excellent")
gen dGood = (condition == "Good")
gen dPoor = (condition == "Poor")
regress price mileage age dExcel dGood
regress price mileage age dExcel dPoor
regress price mileage age dGood dPoor
Hasil regress regress price mileage age dExcel dGood
Terlihat dGood tidak significant (P = 0.22 > 0.05). Sehingga dPoor tidak bagus untuk jadi baseline.Hasil regress regress price mileage age dExcel dPoor
Hasil regress regress price mileage age dGood dPoor
Dengan demikian bisa disimpulkan persamaan regresinya:
Interpretasi:
Interpretasi terhadap persamaan regresi diatas menjadi kurang logis disebabkan mileagecenter terdapat nilai minus, dan agecenter terdapat nilai minus. Tidak mungkin dalam realitanya km sebuah kendaraan negatif, dan umur kendaraan negatif.
Sehingga interpretasinya dikembalikan ke persamaan regresi awal.
Dan interpretasinya sbb:
1. Jika mileage dan age = 0, dan mobil tsb kondisi Excelent, maka price nya $29903.38
2. Setiap kenaikian 1 mil, akan mengurangi nilai jual $0.099, dengan asumsi kondisi mobil Excelent dan usia mobil 0 (mobil baru)
3. Setiap kenaikan usia 1 tahun usia mobil maka akan menurunkan harga mobil $762.21, dengan asumsi kondisi mobil Excelent dan mileage 0 (mobil belum dibawa jalan).
4. Jika kondisi mobil Good, dengan mileage dan age 0, maka selisih harga dengan kondisi millage dan agec yang sama yaitu 0 tetapi mobil kondisi Excelent adalah -$5637.56. Artinya Mobil yang Excelent akan terjual lebih mahal $5637.56 dibandingkan mobil Good.
5. Jika kondisi mobil Poor, dengan mileage dan age 0, maka selisih harga dengan kondisi mileage dan age yang sama yaitu 0 tetapi mobil kondisi Excelent adalah -$7695.7. Artinya Mobil yang Excelent akan terjual lebih mahal $7695.7 dibanding mobil kondisi Poor.
Blog ini merupakan tempat bagi penulis untuk menorehkan catatan-catatan selama penulis mempelajari ilmu statistik menggunakan software STATA...